Psikologi #9: Kita harusnya jangan terlalu kaya, juga jangan terlalu miskin - MZAINI30

Rabu, 06 Mei 2020

Psikologi #9: Kita harusnya jangan terlalu kaya, juga jangan terlalu miskin

Sekilas, judul postingan ini seperti kampanye komunisme sosialisme, tapi sebenarnya bukan itu sih. Kamu pernah nggak berpikir, bahwasanya kehidupan yang sangat timpang antara yang kaya dan miskin itu nggak bagus banget? Ini dari pikiranmu sendiri ya, bukan dari jargon kesetaraan ekonomi yang sering kamu dengar. Bagaimana? Apakah pernah?

Coba bayangkan, yang kaya terus aja kaya karena punya jaringan bisnis yang luas dan channel yang sangat melimpah. Sedangkan, si miskin terus saja miskin karena selain nggak punya skill, nggak punya juga orang dalem buat memperkaya dirinya.

Eh, aku salah ding. Orang miskin bukan berarti dia nggak punya kemampuan. Dia punya kok. Siapa bilang orang miskin nggak bisa masak, menjahit baju, membuat bangunan, memperbaiki HP, memperbaiki laptop? Semuanya bisa dilakukan. Tapi, kenapa kok masih miskin aja? Apakah pelatihannya kurang sehingga perlu diberikan pelatihan prakerja? Nggak. Kemampuan itu sudah cukup, bahkan bisa dikembangkan lagi. Lalu, apa yang salah?

Sekarang, coba kita mengkaji dari sisi kapitalisme di mana dunia ini sekarang bertumpu pada ideologi ini. Menurut kapitalisme, sesungguhnya yang bisa memperkaya diri adalah:

- Modal
- Jaringan bisnis
- Orang dalem
- Skill

Titik pentingnya adalah modal, jaringan bisnis, dan orang dalem. Atau bisa kita singkat aja dengan modal dan orang dalem. Ini adalah inti dari kapitalisme. Kapital. Tau huruf kapital kan? Itu tuh yang huruf lebih besar daripada huruf lainnya; budaya yang kita wariskan dari penulisan aksara orang-orang Latin yang sesungguhnya mencerminkan dengan tepat apa itu kapital.

Maka, dengan begitu, orang yang kaya akan semakin kaya karena channel lebih banyak, modal lebih banyak, dan tentu saja bisa investasi besar-besaran, sehingga yang namanya kehidupan "nyaman" di usia senja bukan lagi impian yang tak teraih.

Bagaimana dengan orang miskin?

Ya, nggak bakalan bisa berkembang karena ya sudah nggak ada modal, nggak punya orang dalem pula. Ini kan buruk. Akhirnya, ketimpangan ekonomi terus saja semakin jauh jaraknya.

Sedikit membahas masalah skill


Sekarang, kita akan keluar sedikit dari permasalahan modal dan orang dalem, yaitu skill. Apakah skill itu penting? Apakah skill sangat membantu di dunia kerja? Jawabannya ya bisa iya dan bisa juga tidak. Lalu, apa sih skill yang sesungguhnya kita butuhkan?

Sekarang, fokus terlebih dahulu pada manusianya.

Skill dan manusia. Manusia membutuhkan sesuatu. Seseorang (pebisnis) memberikan sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia yang membutuhkan sesuatu itu tadi. Manusia perlu memotong rambutnya. Maka, orang yang memiliki skill potong rambut akan ramai orderan.

Sekarang, sedikit bergeser ke kehidupan urban, kehidupan orang kota, kehidupan bourjuis. Orang nggak cuma perlu potong rambut, tapi juga perlu potong rambut yang kualitasnya melebihi dari apa yang terpajang di top collection. Atau, orang-orang ingin rambutnya dipotong sesuai tren tahun ini atau potongan rambut artis. Maka, bukan lagi tukang potong rambut biasa yang ramai orderan, melainkan tukang cukur rambut yang menamakan tempat cukur rambutnya sebagai salon, yang menyanggupi bisa memotong rambut sesuai permintaan orang-orang.

Maka, poin pentingnya dari skill ini adalah:

- Ada manusia yang membutuhkan sesuatu
- Ada orang yang menyanggupi bisa menyediakan sesuatu yang dibutuhkan

Sekarang, intinya bukan hanya skill aja. Tapi, skill apa yang benar-benar dibutuhkan, dan kita memiliki koneksi dengan orang yang membutuhkan skill itu.

Tapi, bukan hanya koneksi dengan orang yang membutuhkan skill itu aja, melainkan juga kita mengetahui bagaimana pasar bermain. Apakah pasar menginginkan barang-barang atau jasa-jasa yang murah? Apakah pasar menginginkan sesuatu yang cepat? Apakah pasar menginginkan sesuatu yang tampak profesional?

Maka, sekali lagi, ini masalah koneksi dengan orang lain. Karena dengan adanya koneksi itu, terciptalah yang namanya pengetahuan umum.

Apa solusi dari ketimpangan ini?


Aku nggak langsung akan berkata seperti orang-orang yang politik-oriented yang langsung berkata:

Ya, pokoknya pemerintahannya yang salah. Harus diganti dong!

Tuh, kan, itu tuh gagalnya produk demokrasi! Harusnya ganti komunis aja biar seimbang!

Indonesia kapitalis pang, deket sama Amerika. Deketin Cina aja coba yang punya militer yang bagus!

Indonesia ni antek-anteknya Cina!

Sekali lagi nggak ya. Aku ingin kita ini berdiskusi secara solusi-oriented. Jadi, kalau kamu ada komentar tentang perbaikan apa yang seharusnya dilakukan, monggo komentar di bawah.

Walaupun memang sih kalau menurut Daron Acemoglu dalam Mengapa Negara Gagal, politik dan kebijakan penguasa adalah kunci ekonomi masyarakat.

Kalau sistem komunis sih, NO. Kita sudah tau bagaimana sistem komunis ini ditegakkan di bumi tercinta ini. Kita sudah melihat betapa banyak kematian yang disebabkan oleh sistem komunis ini. Kita sudah melihat betapa hancurnya ekonomi komunisme yang malah merusak pasar.

Sama rata sama rasa. Maka, para pekerja nggak ingin bekerja lebih karena akan mendapatkan upah yang sama.

— Mengapa Negara Gagal

Solusi terdekat yang bisa aku pikirkan adalah: Berusahalah untuk kaya.

Kok, kayaknya paradoks banget ya. Tadi di atas aku memberi kesan bahwasanya kita jangan kaya-kaya banget. Bahkan, di judul pun aku mengatakan bahwasanya kita jangan terlalu kaya dan jangan terlalu miskin. Lalu, kok solusi ini muncul?

Jadi begini kawan, ketika kamu kaya, maka kamu bisa menyumbangkan harta yang kamu miliki untuk membantu orang-orang yang berada di bawah kamu.

Kok, sederhana sekali ya?

Ya memang begitulah. Sebenarnya solusi itu selalu sederhana. Ketika kamu punya kelebihan uang, sedekahlah. Ketika kamu merasa uangmu selalu nggak ada kelebihan, perbaiki hatimu, karena sesungguhnya kita selalu lebih. Ketika kamu merasa resah, shalatlah. Ketika kamu punya tugas, kerjakan. Adzan, shalat. Sederhana kan? Kehidupan itu sederhana. Solusinya pun selalu sederhana.

Makanlah secukupnya dan sedekahlah. Karena dengan uang-uang yang berlebih itu, yang kita sumbangkan ke berbagai lembaga sosial, akan membuat kesetaraan sosial yang sesungguhnya; suatu kesetaraan yang nggak membuat orang yang punya potensi berlebih mendowngrade kemampuannya.

Dan ketika kamu berada di posisi miskin, dan terus miskin, nggak masalah. Karena kehidupan hanya sementara, jadi lakukan yang bisa kamu lakukan.

Tuhanku, berilah aku kemampuan untuk mengubah segala sesuatu yang bisa aku ubah. Dan berilah aku kelapangan pada segala sesuatu yang nggak bisa aku ubah.

— Breaking Night

Bagaimana menurutmu? Apa kamu punya solusi?

Share with your friends

Maskot Pelarang Adblock

Hallo Kak, Perkenalkan saya Zen. Untuk bisa mengakses situs kami, terlebih dahulu matikan atau non-aktifkan ekstensi AdBlock nya yaaa...

Ok , Saya Mengerti