MZAINI30

Kamis, 07 Mei 2020

Psikologi #10: So, lakukan saja
1

Psikologi #10: So, lakukan saja

Pernah nggak kamu merasa sumpek banget dengan berbagai tugas yang ada di hadapanmu? Pengennya itu lari tapi mau lari ke mana? Deadline di depan mata, Bos! Mau nggak mau ya dikerjain aja sih.

Yap itu. Dikerjain aja.

Sebenarnya sih perasaan bahwa tugas sepertinya sangat berat, sumpek, sulit banget dikerjakan, itu semua ya hanya di persepsi kita aja. Kalau kita kerjakan ya nggak kayak gitu juga. Mungkin ada sih sulitnya. Tapi, kalau kita mulai mengerjakannya, bukankah itu artinya kita sudah melangkah setidaknya 1% dari keseluruhan proses yang harus ditempuh?

Jadi, mulai aja dulu. Nggak usah peduliin semua rasa sesak yang menghampiri. Cari suasana yang nyaman. Nyalakan AC atau kipas. Nyalakan TV. Lalu mulai membuka laptop dan mengerjakan tugas.
0

Cerpen #10: Kisah sebuah kotak amal


Di sinilah aku saat ini. Panas, terik matahari, tak mampu membuatku selalu tersenyum setiap saat. Memang aku hanyalah sebuah kotak amal yang renta, kayu-kayu yang membentuk tubuhku pun mulai layu; lapuk. Namun, aku senantiasa berdiri dengan kokoh di sini.

Kuharap, ada yang memberiku uang kali ini.

Bukan, bukan aku matre atau apa ya. Tapi, memang tugasku seperti ini; menerima uluran tangan dari orang-orang baik yang datang ke masjid ini. Mereka adalah orang-orang yang senantiasa menginginkan ganjaran terbaik dariNya hingga akhirnya berangkat ke masjid ini; bersedekah dan menunaikan shalat.

Aku selalu bangga dengan profesiku ini, sebagai kotak amal.

#RWCODOP2020
#OneDayOnePost
#RWCDay14
#Ramadhan2020
Bedah Website #20: Membuat file-file PHP dari Pug
2

Bedah Website #20: Membuat file-file PHP dari Pug

Di beberapa framework, sudah ada yang namanya template engine seperti Blade di Laravel, Twig di Symfony, Easy UI di Pusaka Framework, dan di framework-framework lainnya. Tapi, di Codeigniter (versi 3) nggak ada. Adanya ya cuma PHP biasa aja. Hal ini tentunya menyulitkan programmer untuk membuat view namun hal ini juga menjadi nilai lebih karena load website menjadi lebih cepat tanpa adanya template engine.

Tapi, tentu saja yang namanya developer ingin membuat website dengan lebih cepat. Di sini, aku mencoba untuk menghubungkannya dengan Pug.

Tapi bukan Phug ya (PHP Pug).

Tapi Pug ini cuma di mode dev. Artinya, mengolah file-file Pug menjadi PHP hanya dilakukan di laptop. Sehingga, kalau di production, ya PHP jadinya. Bukan seperti Laravel yang masih berbentuk Blade dan pada waktu pemuatan pertama diolah menjadi PHP yang disimpan di cache.

Pertama, untuk struktur direktorinya, aku sederhanakan hanya ada satu folder yaitu folder php untuk viewnya yang berisi file-file PHP untuk tampilan.

Jadi, struktur frameworknya ibaratnya:

- php/

Kemudian, kita buat file dev.sh yang isinya:

bash app/php.sh & bash app/pug.sh

Maka, struktur frameworknya menjadi:

- php/
- dev.sh

Lalu, kita buat lagi file app/php.sh dan app/pug.sh. Dan isi dari php.sh adalah:

php -S localhost:2020

Kemudian, isi dari pug.sh adalah:

cd pug
pug . -w -o ../php -P -E php

Maka, struktur frameworknya menjadi:

- php/
- dev.sh
- app/
-- php.sh
-- pug.sh

Kemudian, kita buat folder pug sehingga struktur frameworknya menjadi:

- php/
- dev.sh
- app/
-- php.sh
-- pug.sh
- pug/

Nanti, cara menggunakannya itu adalah, kita jalankan dev.sh yang secara otomatis akan menjalankan app/php.sh dan app/pug.sh. File php.sh itu akan menjalankan PHP Standalone yang bisa diakses di localhost:2020. Sedangkan, file pug.sh akan masuk ke folder pug, kemudian akan mengolah semua file Pug yang ada di situ, kemudian outputnya dikirim ke folder php. Gitu alurnya.

Tapi, kalau kamu belum punya PHP, install dulu dengan perintah:

sudo apt install php

Dan kalau kamu belum ada Pug, install dulu Node JS, kemudian install Pugnya dengan perintah:

sudo npm i -g pug-cli

Nah sekarang kita masuk ke folder pug. Di dalam folder pug, buat file base.pug yang isinya:

- tulis = (x) => `<?= htmlentities(${x} ?? '') ?>`

mixin if(x)
  | <?php if(!{x}): ?>
mixin elif(x)
  | <?php elseif(!{x}): ?>
mixin else
  | <?php else: ?>
mixin endif 
  | <?php endif ?>

mixin foreach(x)
  | <?php foreach(!{x}): ?>
mixin endforeach
  | <?php endforeach ?>

block base

Jadi, file base.pug ini, adalah dasar dari sintaks-sintaks PHP. Kamu bisa menambahkannya kalau kurang. Ini untuk contoh aja karena yang biasa dipakai itu if sama foreach.

Kemudian, kita buat file index.pug yang isinya:

extends base.pug

block base
  h1 Bagian nama
  +if('$nama != "Zen"')
  p Namanya bukan Zen
  +elif('$nama != "Andi"')
  p Namanya bukan Andi
  +else
  p Halo !{tulis("$nama")}
  +endif

  h1 Buah-buah yang kubutuhkan adalah:
  ol
    +foreach('$data as $x')
    li !{tulis("$x")}
    +endforeach

Jadi, strukturnya saat ini menjadi:

- php/
- dev.sh
- app/
-- php.sh
-- pug.sh
- pug/
-- base.pug
-- index.pug

Sekarang, jalankan dev.sh dengan perintah:

bash dev.sh

Sekarang, secara otomatis akan terbentuk file index.php dan base.php sehingga strukturnya menjadi:

- php/
-- base.php
-- index.php
- dev.sh
- app/
-- php.sh
-- pug.sh
- pug/
-- base.pug
-- index.pug

Kalau di base.php, isinya kosong. Sedangkan di index.php isinya:


<h1>Bagian nama</h1><?php if($nama != "Zen"): ?>
<p>Namanya bukan Zen</p><?php elseif($nama != "Andi"): ?>
<p>Namanya bukan Andi</p><?php else: ?>
<p>Halo <?= htmlentities($nama ?? '') ?></p><?php endif ?>
<h1>Buah-buah yang kubutuhkan adalah:</h1>
<ol><?php foreach($data as $x): ?>
  <li><?= htmlentities($x ?? '') ?></li><?php endforeach ?>
</ol>

Jadi lebih mudah kan develop websitenya?

Latihan ini, aku upload ke Github juga dengan nama repositori mzaini30/php-pug.

Rabu, 06 Mei 2020

Psikologi #9: Kita harusnya jangan terlalu kaya, juga jangan terlalu miskin
0

Psikologi #9: Kita harusnya jangan terlalu kaya, juga jangan terlalu miskin

Sekilas, judul postingan ini seperti kampanye komunisme sosialisme, tapi sebenarnya bukan itu sih. Kamu pernah nggak berpikir, bahwasanya kehidupan yang sangat timpang antara yang kaya dan miskin itu nggak bagus banget? Ini dari pikiranmu sendiri ya, bukan dari jargon kesetaraan ekonomi yang sering kamu dengar. Bagaimana? Apakah pernah?

Coba bayangkan, yang kaya terus aja kaya karena punya jaringan bisnis yang luas dan channel yang sangat melimpah. Sedangkan, si miskin terus saja miskin karena selain nggak punya skill, nggak punya juga orang dalem buat memperkaya dirinya.

Eh, aku salah ding. Orang miskin bukan berarti dia nggak punya kemampuan. Dia punya kok. Siapa bilang orang miskin nggak bisa masak, menjahit baju, membuat bangunan, memperbaiki HP, memperbaiki laptop? Semuanya bisa dilakukan. Tapi, kenapa kok masih miskin aja? Apakah pelatihannya kurang sehingga perlu diberikan pelatihan prakerja? Nggak. Kemampuan itu sudah cukup, bahkan bisa dikembangkan lagi. Lalu, apa yang salah?

Sekarang, coba kita mengkaji dari sisi kapitalisme di mana dunia ini sekarang bertumpu pada ideologi ini. Menurut kapitalisme, sesungguhnya yang bisa memperkaya diri adalah:

- Modal
- Jaringan bisnis
- Orang dalem
- Skill

Titik pentingnya adalah modal, jaringan bisnis, dan orang dalem. Atau bisa kita singkat aja dengan modal dan orang dalem. Ini adalah inti dari kapitalisme. Kapital. Tau huruf kapital kan? Itu tuh yang huruf lebih besar daripada huruf lainnya; budaya yang kita wariskan dari penulisan aksara orang-orang Latin yang sesungguhnya mencerminkan dengan tepat apa itu kapital.

Maka, dengan begitu, orang yang kaya akan semakin kaya karena channel lebih banyak, modal lebih banyak, dan tentu saja bisa investasi besar-besaran, sehingga yang namanya kehidupan "nyaman" di usia senja bukan lagi impian yang tak teraih.

Bagaimana dengan orang miskin?

Ya, nggak bakalan bisa berkembang karena ya sudah nggak ada modal, nggak punya orang dalem pula. Ini kan buruk. Akhirnya, ketimpangan ekonomi terus saja semakin jauh jaraknya.

Sedikit membahas masalah skill


Sekarang, kita akan keluar sedikit dari permasalahan modal dan orang dalem, yaitu skill. Apakah skill itu penting? Apakah skill sangat membantu di dunia kerja? Jawabannya ya bisa iya dan bisa juga tidak. Lalu, apa sih skill yang sesungguhnya kita butuhkan?

Sekarang, fokus terlebih dahulu pada manusianya.

Skill dan manusia. Manusia membutuhkan sesuatu. Seseorang (pebisnis) memberikan sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia yang membutuhkan sesuatu itu tadi. Manusia perlu memotong rambutnya. Maka, orang yang memiliki skill potong rambut akan ramai orderan.

Sekarang, sedikit bergeser ke kehidupan urban, kehidupan orang kota, kehidupan bourjuis. Orang nggak cuma perlu potong rambut, tapi juga perlu potong rambut yang kualitasnya melebihi dari apa yang terpajang di top collection. Atau, orang-orang ingin rambutnya dipotong sesuai tren tahun ini atau potongan rambut artis. Maka, bukan lagi tukang potong rambut biasa yang ramai orderan, melainkan tukang cukur rambut yang menamakan tempat cukur rambutnya sebagai salon, yang menyanggupi bisa memotong rambut sesuai permintaan orang-orang.

Maka, poin pentingnya dari skill ini adalah:

- Ada manusia yang membutuhkan sesuatu
- Ada orang yang menyanggupi bisa menyediakan sesuatu yang dibutuhkan

Sekarang, intinya bukan hanya skill aja. Tapi, skill apa yang benar-benar dibutuhkan, dan kita memiliki koneksi dengan orang yang membutuhkan skill itu.

Tapi, bukan hanya koneksi dengan orang yang membutuhkan skill itu aja, melainkan juga kita mengetahui bagaimana pasar bermain. Apakah pasar menginginkan barang-barang atau jasa-jasa yang murah? Apakah pasar menginginkan sesuatu yang cepat? Apakah pasar menginginkan sesuatu yang tampak profesional?

Maka, sekali lagi, ini masalah koneksi dengan orang lain. Karena dengan adanya koneksi itu, terciptalah yang namanya pengetahuan umum.

Apa solusi dari ketimpangan ini?


Aku nggak langsung akan berkata seperti orang-orang yang politik-oriented yang langsung berkata:

Ya, pokoknya pemerintahannya yang salah. Harus diganti dong!

Tuh, kan, itu tuh gagalnya produk demokrasi! Harusnya ganti komunis aja biar seimbang!

Indonesia kapitalis pang, deket sama Amerika. Deketin Cina aja coba yang punya militer yang bagus!

Indonesia ni antek-anteknya Cina!

Sekali lagi nggak ya. Aku ingin kita ini berdiskusi secara solusi-oriented. Jadi, kalau kamu ada komentar tentang perbaikan apa yang seharusnya dilakukan, monggo komentar di bawah.

Walaupun memang sih kalau menurut Daron Acemoglu dalam Mengapa Negara Gagal, politik dan kebijakan penguasa adalah kunci ekonomi masyarakat.

Kalau sistem komunis sih, NO. Kita sudah tau bagaimana sistem komunis ini ditegakkan di bumi tercinta ini. Kita sudah melihat betapa banyak kematian yang disebabkan oleh sistem komunis ini. Kita sudah melihat betapa hancurnya ekonomi komunisme yang malah merusak pasar.

Sama rata sama rasa. Maka, para pekerja nggak ingin bekerja lebih karena akan mendapatkan upah yang sama.

— Mengapa Negara Gagal

Solusi terdekat yang bisa aku pikirkan adalah: Berusahalah untuk kaya.

Kok, kayaknya paradoks banget ya. Tadi di atas aku memberi kesan bahwasanya kita jangan kaya-kaya banget. Bahkan, di judul pun aku mengatakan bahwasanya kita jangan terlalu kaya dan jangan terlalu miskin. Lalu, kok solusi ini muncul?

Jadi begini kawan, ketika kamu kaya, maka kamu bisa menyumbangkan harta yang kamu miliki untuk membantu orang-orang yang berada di bawah kamu.

Kok, sederhana sekali ya?

Ya memang begitulah. Sebenarnya solusi itu selalu sederhana. Ketika kamu punya kelebihan uang, sedekahlah. Ketika kamu merasa uangmu selalu nggak ada kelebihan, perbaiki hatimu, karena sesungguhnya kita selalu lebih. Ketika kamu merasa resah, shalatlah. Ketika kamu punya tugas, kerjakan. Adzan, shalat. Sederhana kan? Kehidupan itu sederhana. Solusinya pun selalu sederhana.

Makanlah secukupnya dan sedekahlah. Karena dengan uang-uang yang berlebih itu, yang kita sumbangkan ke berbagai lembaga sosial, akan membuat kesetaraan sosial yang sesungguhnya; suatu kesetaraan yang nggak membuat orang yang punya potensi berlebih mendowngrade kemampuannya.

Dan ketika kamu berada di posisi miskin, dan terus miskin, nggak masalah. Karena kehidupan hanya sementara, jadi lakukan yang bisa kamu lakukan.

Tuhanku, berilah aku kemampuan untuk mengubah segala sesuatu yang bisa aku ubah. Dan berilah aku kelapangan pada segala sesuatu yang nggak bisa aku ubah.

— Breaking Night

Bagaimana menurutmu? Apa kamu punya solusi?
2

Psikologi #8: Berawal dari masjid, semua kisah epikku


Apa arti masjid bagimu? Apakah masjid hanya untuk shalat? Bukankah masjid bukan hanya untuk shalat? Bukankah kita bisa melakukan hal yang lebih dengan kehadiran masjid?

Aku menghabiskan sebagian besar kehidupan remajaku di masjid (SMP dan SMA) karena memang aku bersekolah di pondok pesantren. Dengan masjid, aku bisa mengkaji ilmu agama, menghafal Alquran, keseruan kegiatan menghafal kosakata bahasa Arab dan bahasa Inggris, ketiduran, menghafal hadits, bahkan membaca buku.

Kok bisa membaca buku?

Karena kalau di SMA (Mahad Tahfidzul Quran Isy Karima), perpustakaan (maktabah) letaknya berada di belakang masjid dan disambungkan dengan lantai keramik (seluruh Isy Karima lantainya keramik sih; dari masjid, asrama, sekolah, dan kantor) sehingga kalau kita i'tikaf di masjid Isy Karima, maktabah masih termasuk wilayah masjid. Kalau di maktabah situ, bukunya bahasa Arab semua tapi lengkap banget. Mulai dari kitab hadits ada semua; Bukhari, Muslim, kutubus sittah, dll. Kitab-kitab karya para ulama juga ada; La Tahzan, Al-Bidayah wa An-Nihayah, dll. Kitab-kitab sastra. Kitab-kitab jihad; Tarbiyah Jihadiyah, kumpulan fatwa jihad, dll. Semuanya ada di maktabah Isy Karima dan tentunya bahasa Arab semua. Kamus aja bahasa Arab ke bahasa Arab seperti kitab Lisan Al-Arab.

Kalau yang aku suka sih La Tahzan. Coba deh kamu baca yang versi bahasa Arabnya. Bagus banget. Sering banget tuh itu buku aku pakai untuk bahan muhadoroh (pidato) yang rutin diadakan setiap malam Jumat.

Di masjid Isy Karima, adalah saksi bagi perjuangan kami semua dalam menghafalkan Alquran dan menghafalkan setiap pelajaran di kelas. Entah itu susah, lelah, capek, kantuk, semua hadir dalam perjuangan kami mempelajari agama ini di masjid Isy Karima.

Itu kisahku tentang masjid. Bagaimana denganmu?

#RWCODOP2020
#OneDayOnePost
#RWCDay13
#Ramadhan2020
0

Elemen #4: Makmum


Terkadang, orang-orang berpikir bahwa menjadi makmum itu gampang aja.
Ya, tinggal ngikutin apa yang dilakukan oleh imam.

Namun...

Ada beberapa hal yang terkadang terlupa dan merusak shalat kita.
Seperti makan
minum
berbicara
nggak mengikutin gerakan imam

Berbagai kesalahan lainnya yang membuat shalat kita rusak

Apakah kita sadar?
Apakah kita sadar bahwa terkadang kita melakukan kesalahan dalam shalat?

Oleh karena itu, shalat nafilah hadir sebagai pelengkap dari rusaknya shalat kita.

#RWCODOP2020
#OneDayOnePost
#RWCDay12
#Ramadhan2020
0

Bedah Website #19: Menghitung keliling, luas lingkaran, volume bola, dan luas permukaan bola secara otomatis menggunakan Coffeescript

Ingat nggak, dulu kalau di sekolah (SD kayaknya ya), kita diminta untuk mengukur keliling lingkaran, luas lingkaran, volume bola, dan luas permukaan bola, dengan rumus-rumus sebagai berikut:

\(K = 2 \pi r\)
\(L = \pi r^2\)
\(V = \frac{4}{3} \pi r^3\)
\(L_{bola} = 4 \pi r^2\)

Jadi, kita akan membuat suatu program yang jika kita memasukkan nilai r (jari-jari), maka akan otomatis terhitung nilai dari keliling lingkaran, luas lingkaran, volume bola, dan luas permukaan bola.

Nah, sekarang kita coba programnya...

Pertama, buka dulu website Coffeescript.

Lalu, di bagian data, masukkan jari-jari yang mau kamu hitung. Misalnya aja: 7.

Lalu, di bagian Coffeescript, masukkan kode berikut:

# mengolah r

r = data
pi = 22 / 7
keliling = 2 * pi * r
luas = pi * r ** 2
volume = 4 / 3 * pi * r ** 3
luas_bola = 4 * pi * r ** 2

# mencetak hasilnya

console.log """
Keliling lingkaran: #{keliling}
Luas lingkaran: #{luas}
Volume bola: #{volume}
Luas bola: #{luas_bola}
"""

Nah, di bagian hasil (kolom paling kanan) akan muncul hasilnya:

Keliling lingkaran: 44
Luas lingkaran: 154
Volume bola: 1437.333333333333
Luas bola: 616


Maskot Pelarang Adblock

Hallo Kak, Perkenalkan saya Zen. Untuk bisa mengakses situs kami, terlebih dahulu matikan atau non-aktifkan ekstensi AdBlock nya yaaa...

Ok , Saya Mengerti